Siang itu tanggal 27 Desember 2010, ya momen dimana saat yang gak akan pernah gue lupakan seumur hidup, dimana tanggal itu merupakan hari dimana gue TERAKHIR KALINYA melihat "Si Jelek" sapaaan terakhir gue buat dia. dia yang udah selama 8 bulan ngisi hari-hari gue dengan indah.
Ibarat veteran perang yang pake celana aja udah mencong-mencong, tapi dengan insting yang masih fresh tetap gak bisa ngelupain dimana hari ia mati-matian berjuang mempertahankan kemerdekaan.
Terminologi yang pas, namun bikin hati gue mencret gak karuan. Oke, gue bingung mau mulai dari mana, yang jelas gue bakalan share ke kalian tentang kehidupan cinta terakhir gue yang bikin lo eneg abis dan berharap gak akan pernah kunjungi Blog gue ini lagi.
Honestly, mantan gue emang gak bisa dibilang sedikit, gue gak akan nyebutin satu-satu nama cewek yang akhirnya otaknya geser dikit akibat pacaran sama gue. kalo menurut analisa gue, selama perjalanan kisah cinta gue, gak ada yang namanya happy ending. Hmm..Setelah ngomong ini, gue semakin tertarik deh untuk ngebahasnya.
Iya, Sebagai tambahan aja nih ya menurut kebanyakan orang, Happy Ending merupakan situasi dimana si cowok dan cewek berakhir dengan kebahagiaan, pikir gue sebagai kebalikannya kalo ada yang namanya Happy Ending , berarti ada yang namanya Bad Ending juga dong?? Trus bagaimana tolak ukur hubungan seseorang bisa dikatakan Bad atopun Happy? Gue malah jadi bingung sama semua yang gue omongin. bahkan setau gue, penyanyi sekelas Avril lavigne pun pernah membuat lagu berjudul Happy Ending, lagu yang cukup top di eranya. Gue gak yakin nih cewek ngerti sama yang lagu dia bikin, dan yang lebih parah lagi, para ababil di indonesia malah ikut-ikutan suka sama lagu ini. Double Fooled.
Lanjut menurut gue, cinta sejati itu gak akan pernah mengenal yang namanya "ENDING", satu contoh,emm.. misalnya gue pacaran nih sama Scarlette Jhonson (kalian kok kayak gak rela gitu?), terus gue bertunangan dan akhirnya menikah. oke, fase mimpi buruk yang dialami Scarlette Jhonson diatas, bagi sebagian orang berpendapat bahwa berakhir dengan Happy Ending, tapi menurut gue enggak, itu pemahaman yang salah.karena dengan memasukinya Kami ke gerbang pernikahan (Kok kalian kayak mau matahin badan gue jadi 2??) , di depan sana sudah menanti berbagai macam cobaan dan rintangan yang siap menerpa, yang pahit-pahitya berujung perceraian. APA ITU YANG KALIAN MAKSUD DENGAN HAPPY ENDING??? yang ada kalian akan nemuin gue gantung diri di pohon asem dengan celana Garfield kesayangan gue.
Kalian pasti tau Brad Pit, berakhirnya pernikahannya dengan Jennifer Aniston juga sempat menggemparkan Hollywood loh, yang pada akhirnya Brad Pit sendiri berlabuh di pangkuan Angelina Jolie (Kali ini gue yang pengen matahin badan si Brad Pit). Hal ini sedikit menjelaskan bahwa cinta itu gak akan pernah berakhir, meskipun ia sempat jatuh dan terseok-seok, bukan berarti ia mati. Ia akan terus tumbuh, jatuh, tumbuh, jatuh begitu seterusnya. Kesimpulan yang bisa gue tarik dari penjelasan gue adalah “Love doesn’t have an ending.”
tapi itu terserah kalian ya, ini hanya pendapat gue. Kalian berhak kok atas ekspektasi kalian sendiri dan berhak pula mendeskripsikan persoalan tertentu tentang suatu masalah yang kalian hadapi maupun yang ada di sekitar kalian,yaaa.. you can see like what i do know :)
Lanjut mngenai "Si Jelek", gue nulis artike ini karena di samping masih kebawa sama suasana Hari‘Fuck’lentine Valetine , di hari kasih sayang yang jatoh tanggal 14 Februari kemaren, gue sekedar pengen share aja karena semenjak tanggal 27 Desember 2010 yang lalu, gue udah gak pernah lagi ngeliat dia, ini my memory, ini udah hari ke-51 dia pergi, dan di komputer gue sekarang pukul 13.41 waktu gue nulis artikel ini. Dan selama itu gue coba bangkit dengan apa yang gue punya sekarang. Gue Cuma pengen tau, di Hari Valenine kemaren dia ngapain ya?sama siapa ya? (yang jelas dia gak bakal mikirin gue, kalopun mikirin itu karena dia masih gak percaya pernah punya pacar yang mukanya mirip babi sekarat) Oiya untuk info tambahan, meskipun gue gak ada yang ngasih tau, tapi gue tau dia udah bersama seseorang yang ia pilih dengan keyakinan hati seperti dia memilih gue dulu.
Gue inget banget 1 petikan seorang Chris Brown dalalm strip bukunya yang kebetulan di pampang di sebuah majalah yang gue sendiri lupa-lupa inget nama majalah itu, yang berbunyi “Nothing takes the flavour out of peanut better quite like unrequited love.” Mungkin Gue bisa dikategorikan ke dalam pernyataan barusan, tapi lebih kepada taste, gue lebih suka menganalogikan “Si Jelek” menjadi selai strawberry karena gue benci banget sama yang namanya kacang. Kalo dipaksain, gue bisa punya kutil di hidung yang semakin menambah daftar keabsurdan muka Gue.
Gue inget banget di tanggal 27 Desember itu gue coba ketemu sama dia, gue deg-degan setengah mampus, sumpah gue gak pernah merasa sedekat ini sama yang namanya kematian. mengingat peristiwa dan kesalahan gue yang udah gue lakukan sama dia, gue jadi pengen langsung lompat ke kawah Gunung Merapi tanpa busana.
Kalo boleh gue gambarkan saat itu, dia pengen banget templok pala gue pake tabung gas 3 kg sampe gue gak sadarkan diri, ngiket gue dan ngelindes gue pake traktor. Seenggaknya itu yang gue tanggap dari mimik momok dan gestur tubuhnya. Gue yang saat itu juga frustasi, berusaha mencari celah dan mencari solusi makin terpojokkan dan semakin merasa bersalah.
Dan waktunya pun tiba, jantung gue makin gak karuan, saking nervous-nya gue langsung terkena Overpanic Syndrom. Dalam waktu yang bersamaan gue langsung kebelet pipis, kebelet eek dikombinasikan sama serangan gagu. dia yang gue lihat mengenakan baju casual warna ungu dengan dalaman berwarna ungu pula,dan memakai celana jeans warna biru semakin memberi kesan penuh bahwa dia selalu terlihat anggun dan cantik dengan apapun yang melekat di tubuhnya. Sedangkan gue sendiri kontet, sleketep dan lebih mirip kayak ari-ari ikan asin.
Dari jauh tepat beberapa langkah sebelum Kami mendekat ia terlihat jelas banget sedikit membuang muka dengan mata nanar penuh kebencian dan berkata kepada temen di sebelahnya “Ahh…Males banget gue”. Jegerrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr!!! (“Ahh…Males banget gue”, “Ahh…Males banget gue”, “Ahh…Males banget gue”) Ya..kata-kata itu sampai sekarang gue inget banget, melekat di otak gue, menjadi 1 di aliran darah gue dan menyatu menjadi sebuah harmoni detak jantung gue. Sampai sekarang pun gue masih gak percaya atas kejadian itu.
Gue yang saat itu berpakaian compang-camping, dekil, lusuh persis kayak ikan teri kena radiasi mencoba untuk mendekat. Kami bertemu dan you know what??? ia dengan muka tanpa berdosa langsung menyuruh gue untuk pulang dan jangan pernah nemuin dia lagi, jegerrr jegeerrrrr.. ya petir di hati gue berbunyi lagi, dan semua berlalu gitu saja.
Sontak Gue langsung cabut dari tempat dimana Gue nongkrong bareng temen-temen, sekaligus nungguin dia di kampus. Gue pulang, gue berlari sekenceng-kencengnya tanpa memperhatikan jalan,gue nangis dengan rasa penuh kegagalan sampe akhirnya gue mendarat ke sebuah got. Gue masuk RS.
Semua berlalu begitu saja, sampai gue bisa dikit demi sedikit lupain atas apa yang terjadi antara Gue dan “Si Jelek”. Ya, dia udah memilih jalan hidupnya sendiri, begitu pun Gue, Gue Cuma bisa berdoa semoga “Si Jelek” tetap menjadi “Si Jelek” yang gue kenal. Yang selalu manggil gue dengan “Cina” (padahal kenyataanya gue juga sipit karena mata gue alergi permanen akibat makan empek-empek basi). Kalo di Flash Back kebelakang, seperti kebanyakan orang ,gue juga punya sensasi Unforgetable Moment loh sama “Si Jelek”, adalah dimana saat gue First Kiss. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa….lagi-lagi gue gak pernah sedekat ini dengan Malaikat Pencabut Nyawa. (Kalo yang ini gak akan gue ceritain, nanti kalian mupeng)
Lepas dari itu semua, Gue berharap si “Si Jelek” mampu hidup yang layak (selama hidup sama gue, dia emang jauh dari kata “layak”) dengan kekasihnya yang sudah tentu lebih bisa melengkapi apa yang mungkin gak bisa gue lengkapi kala itu.
Mungkin itu aja, jangan pernah lupa loh sama teori gue bahwa “Love doesn’t have an ending.” Terakhir, gue sebenarnya pengen masukin foto “Si Jelek’, orang yang gue ceritain panjang lebar di Artikel Gue ini, tapi setelah gue pikir-pikir kayaknya jangan deh. Soalnya pasti dia pasti bakal malu setengah gila, di cengin 1 kampus dan akhirnya gue pun masuk penjara yang di penuhi mas-mas tukang warung dan homo menjelang menopause karena udah ngelakuin pencemaran nama baik, gue gak mau itu. Jangan pernah putus asa ya guys, karena yakinlah bahwa ada seseorang yang lebih baik di luar sana menunggu kalian. (meskipun gue sendiri gak yakin sama omongan gue yang ini).
Wassalam,
Ibarat veteran perang yang pake celana aja udah mencong-mencong, tapi dengan insting yang masih fresh tetap gak bisa ngelupain dimana hari ia mati-matian berjuang mempertahankan kemerdekaan.
Terminologi yang pas, namun bikin hati gue mencret gak karuan. Oke, gue bingung mau mulai dari mana, yang jelas gue bakalan share ke kalian tentang kehidupan cinta terakhir gue yang bikin lo eneg abis dan berharap gak akan pernah kunjungi Blog gue ini lagi.
Honestly, mantan gue emang gak bisa dibilang sedikit, gue gak akan nyebutin satu-satu nama cewek yang akhirnya otaknya geser dikit akibat pacaran sama gue. kalo menurut analisa gue, selama perjalanan kisah cinta gue, gak ada yang namanya happy ending. Hmm..Setelah ngomong ini, gue semakin tertarik deh untuk ngebahasnya.
Iya, Sebagai tambahan aja nih ya menurut kebanyakan orang, Happy Ending merupakan situasi dimana si cowok dan cewek berakhir dengan kebahagiaan, pikir gue sebagai kebalikannya kalo ada yang namanya Happy Ending , berarti ada yang namanya Bad Ending juga dong?? Trus bagaimana tolak ukur hubungan seseorang bisa dikatakan Bad atopun Happy? Gue malah jadi bingung sama semua yang gue omongin. bahkan setau gue, penyanyi sekelas Avril lavigne pun pernah membuat lagu berjudul Happy Ending, lagu yang cukup top di eranya. Gue gak yakin nih cewek ngerti sama yang lagu dia bikin, dan yang lebih parah lagi, para ababil di indonesia malah ikut-ikutan suka sama lagu ini. Double Fooled.
Lanjut menurut gue, cinta sejati itu gak akan pernah mengenal yang namanya "ENDING", satu contoh,emm.. misalnya gue pacaran nih sama Scarlette Jhonson (kalian kok kayak gak rela gitu?), terus gue bertunangan dan akhirnya menikah. oke, fase mimpi buruk yang dialami Scarlette Jhonson diatas, bagi sebagian orang berpendapat bahwa berakhir dengan Happy Ending, tapi menurut gue enggak, itu pemahaman yang salah.karena dengan memasukinya Kami ke gerbang pernikahan (Kok kalian kayak mau matahin badan gue jadi 2??) , di depan sana sudah menanti berbagai macam cobaan dan rintangan yang siap menerpa, yang pahit-pahitya berujung perceraian. APA ITU YANG KALIAN MAKSUD DENGAN HAPPY ENDING??? yang ada kalian akan nemuin gue gantung diri di pohon asem dengan celana Garfield kesayangan gue.
Kalian pasti tau Brad Pit, berakhirnya pernikahannya dengan Jennifer Aniston juga sempat menggemparkan Hollywood loh, yang pada akhirnya Brad Pit sendiri berlabuh di pangkuan Angelina Jolie (Kali ini gue yang pengen matahin badan si Brad Pit). Hal ini sedikit menjelaskan bahwa cinta itu gak akan pernah berakhir, meskipun ia sempat jatuh dan terseok-seok, bukan berarti ia mati. Ia akan terus tumbuh, jatuh, tumbuh, jatuh begitu seterusnya. Kesimpulan yang bisa gue tarik dari penjelasan gue adalah “Love doesn’t have an ending.”
tapi itu terserah kalian ya, ini hanya pendapat gue. Kalian berhak kok atas ekspektasi kalian sendiri dan berhak pula mendeskripsikan persoalan tertentu tentang suatu masalah yang kalian hadapi maupun yang ada di sekitar kalian,yaaa.. you can see like what i do know :)
Lanjut mngenai "Si Jelek", gue nulis artike ini karena di samping masih kebawa sama suasana Hari
Gue inget banget 1 petikan seorang Chris Brown dalalm strip bukunya yang kebetulan di pampang di sebuah majalah yang gue sendiri lupa-lupa inget nama majalah itu, yang berbunyi “Nothing takes the flavour out of peanut better quite like unrequited love.” Mungkin Gue bisa dikategorikan ke dalam pernyataan barusan, tapi lebih kepada taste, gue lebih suka menganalogikan “Si Jelek” menjadi selai strawberry karena gue benci banget sama yang namanya kacang. Kalo dipaksain, gue bisa punya kutil di hidung yang semakin menambah daftar keabsurdan muka Gue.
Gue inget banget di tanggal 27 Desember itu gue coba ketemu sama dia, gue deg-degan setengah mampus, sumpah gue gak pernah merasa sedekat ini sama yang namanya kematian. mengingat peristiwa dan kesalahan gue yang udah gue lakukan sama dia, gue jadi pengen langsung lompat ke kawah Gunung Merapi tanpa busana.
Kalo boleh gue gambarkan saat itu, dia pengen banget templok pala gue pake tabung gas 3 kg sampe gue gak sadarkan diri, ngiket gue dan ngelindes gue pake traktor. Seenggaknya itu yang gue tanggap dari mimik momok dan gestur tubuhnya. Gue yang saat itu juga frustasi, berusaha mencari celah dan mencari solusi makin terpojokkan dan semakin merasa bersalah.
Dan waktunya pun tiba, jantung gue makin gak karuan, saking nervous-nya gue langsung terkena Overpanic Syndrom. Dalam waktu yang bersamaan gue langsung kebelet pipis, kebelet eek dikombinasikan sama serangan gagu. dia yang gue lihat mengenakan baju casual warna ungu dengan dalaman berwarna ungu pula,dan memakai celana jeans warna biru semakin memberi kesan penuh bahwa dia selalu terlihat anggun dan cantik dengan apapun yang melekat di tubuhnya. Sedangkan gue sendiri kontet, sleketep dan lebih mirip kayak ari-ari ikan asin.
Dari jauh tepat beberapa langkah sebelum Kami mendekat ia terlihat jelas banget sedikit membuang muka dengan mata nanar penuh kebencian dan berkata kepada temen di sebelahnya “Ahh…Males banget gue”. Jegerrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr!!! (“Ahh…Males banget gue”, “Ahh…Males banget gue”, “Ahh…Males banget gue”) Ya..kata-kata itu sampai sekarang gue inget banget, melekat di otak gue, menjadi 1 di aliran darah gue dan menyatu menjadi sebuah harmoni detak jantung gue. Sampai sekarang pun gue masih gak percaya atas kejadian itu.
Gue yang saat itu berpakaian compang-camping, dekil, lusuh persis kayak ikan teri kena radiasi mencoba untuk mendekat. Kami bertemu dan you know what??? ia dengan muka tanpa berdosa langsung menyuruh gue untuk pulang dan jangan pernah nemuin dia lagi, jegerrr jegeerrrrr.. ya petir di hati gue berbunyi lagi, dan semua berlalu gitu saja.
Sontak Gue langsung cabut dari tempat dimana Gue nongkrong bareng temen-temen, sekaligus nungguin dia di kampus. Gue pulang, gue berlari sekenceng-kencengnya tanpa memperhatikan jalan,gue nangis dengan rasa penuh kegagalan sampe akhirnya gue mendarat ke sebuah got. Gue masuk RS.
Semua berlalu begitu saja, sampai gue bisa dikit demi sedikit lupain atas apa yang terjadi antara Gue dan “Si Jelek”. Ya, dia udah memilih jalan hidupnya sendiri, begitu pun Gue, Gue Cuma bisa berdoa semoga “Si Jelek” tetap menjadi “Si Jelek” yang gue kenal. Yang selalu manggil gue dengan “Cina” (padahal kenyataanya gue juga sipit karena mata gue alergi permanen akibat makan empek-empek basi). Kalo di Flash Back kebelakang, seperti kebanyakan orang ,gue juga punya sensasi Unforgetable Moment loh sama “Si Jelek”, adalah dimana saat gue First Kiss. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa….lagi-lagi gue gak pernah sedekat ini dengan Malaikat Pencabut Nyawa. (Kalo yang ini gak akan gue ceritain, nanti kalian mupeng)
Lepas dari itu semua, Gue berharap si “Si Jelek” mampu hidup yang layak (selama hidup sama gue, dia emang jauh dari kata “layak”) dengan kekasihnya yang sudah tentu lebih bisa melengkapi apa yang mungkin gak bisa gue lengkapi kala itu.
Mungkin itu aja, jangan pernah lupa loh sama teori gue bahwa “Love doesn’t have an ending.” Terakhir, gue sebenarnya pengen masukin foto “Si Jelek’, orang yang gue ceritain panjang lebar di Artikel Gue ini, tapi setelah gue pikir-pikir kayaknya jangan deh. Soalnya pasti dia pasti bakal malu setengah gila, di cengin 1 kampus dan akhirnya gue pun masuk penjara yang di penuhi mas-mas tukang warung dan homo menjelang menopause karena udah ngelakuin pencemaran nama baik, gue gak mau itu. Jangan pernah putus asa ya guys, karena yakinlah bahwa ada seseorang yang lebih baik di luar sana menunggu kalian. (meskipun gue sendiri gak yakin sama omongan gue yang ini).
Wassalam,