Bayi -> balita -> remaja -> dewasa -> tua -> manula. Diri kita adalah contoh ril skema tumbuh alamiah pada manusia. Semua orang pernah dilahirkan. setelah dilahirkan, ia punya cap tanggung jawab dan eksistensinya di dunia.
Secara struktural, beberapa aspek kehidupan adalah sebuah misteri. Kadang kita tidak pernah mengerti kenapa ini dan itu ada, bagaimana prosesnya, seperti apa rasanya dan kenapa begitu cepat/lama berakhir??
Tidak ada yang tau seperti apa rasanya dilahirkan.
Seperti apa rasanya ketika pertama kali oksigen menyelam ke rongga paru-paru?
Yang kita tahu hanyalah “kita… adalah hari ini”. No question for that!
Seperti haus yang mengharuskan kita minum. Seperti kantuk yang mengharuskan kita tidur. Lalu, seperti rindu yang mengharuskan kita segera bertemu. Sebab akibat adalah harmoni kehidupan. Salah satu unsur kontemplasi yang harusnya kita syukuri, jika kita berkesempatan memaknainya. agak geli sih mikirnya karena hampir kebanyakan orang enggan, bahkan cenderung acuh untuk menjadi bagian dari “harmoni alam”. Bukan sepenuhnya salah mereka sih, namun gue juga kadang takjub dimana sebelum suatu fenomena terjadi, dengan sendiri ia melahirkan sekurangnya 1 sebab dasar sbg latar belakang. Contoh: ketika kedua orang saling sayang putus di tengah jalan, bisa saja bukan karena mereka tidak cocok. tapi karena ketidakmampuan mereka berbagi kebahagiaan.
That is the haunting period.
gue jadi inget film cash back. Dimana tiap gue nonton, hati gue selalu tertinggal di tiap scene dan narasi film yang terlewat. “The bad news is that time flies. The good news is that you're the pilot”
Manusia memang bertanggung jawab thd kebahagiannya, namun ketika semua berjalan di luar kuasa, itu berarti ada passion kuat yang menyarankan kita baiknya menyingkir terlebih dahulu. Pada hakikatnya kita butuh Tuhan. Namun, jika boleh sedikit lancang berargumen, menurut gue, tuhan rentan cemburu. Tuhan sedikit cemburu karena kita mencondongkan diri pada hal yang tak sepatutnya.
Di dunia ini banyak kedua orang yang saling jatuh cinta, lalu pacaran untuk alasan yang sama dan putus karena alasan yang itu-itu saja. Sesimpel ketika kita udah ada di toilet karena kebelet, dan keluar toilet setelah berhajat. Entah hanya sekedar membenarkan restleting atau sejenak merapikan baju yang lusuh karena dipakai seharian. Setelah selesai, toilet lekas kembali menjadi ruang kosong tak berpenghuni. Layaknya hati yang ditinggalkan.
![]() |
Terkadang gue mikir, jatuh cinta hanya sekedar rasa “kebelet” sementara yang kerap melanda seseorang dimana dan kapan saja. ketika sendirian di kamar, di dalam mobil, di tengah keramaian mall, di café, di derasnya hujan, saat-saat serius meeting, di kampus, dll. Orang dari suku bangsa mana pun tidak pernah lepas dari “toilet”. Ketika seseorang singgah ke toilet, dibutuhkan waktu yang relatif singkat guna bertahan didalamnya. jika sudah begitu, ia kemudian hanya dapat dikategorikan sebagai “kebelet besar” dan “kebelet kecil”. Semakin besar hajat yang ingin dibuang, semakin lama seseorang berada di dalam toilet. Dalam artian, bakal semakin lama mereka berpacaran. Berlaku pun sebaliknya. Logikanya, ketika sudah jenuh dan tidak ada lagi hasrat yang ingin dibuang, tak ada lagi alasan untuk berlama-lama dalam toilet. Sampai akhirnya seseorang akan terus move on dan bertemu dengan toilet-toilet lainnya di luar sana. Misinya? Jelas.. melepaskan lega dengan berbagi. Karena berbagi, tak ayal punya arti yang lebih dari sekedar kebersamaan..
