Ngomong-ngomong soal TV, apalagi TV lokal pasti tidak jauh dari menye, jijik dan ogah.
Ingat JKT 48? Jika tidak. Silahkan googling sekarang juga. Sudah? kemudian pelan-pelan bayangkan, kemungkinan ancaman perkembangan psikis yang ditimbulkan ketika anda fans fanatik mereka < 17 tahun. Saya sendiri tidak bisa membayangkan apa yang akan menimpa ketika benar-benar meggilai idol group ini.
![]() |
| Terakhir kali saya liat laman thumbnail seperti ini, saya berada di panti pijat |
Hal rasional yang ingin saya lakukan thd mereka jika berumur dibawah 10 adalah sbg berikut: asumsikan saja saya adalah Iqbal “Coboy Junior” dan mereka semua suka sama saya. Skr saya coba memacari mereka, hingga ketika saya berumur 35 tahun pun, saya belum yakin pasti bisa kelar memacari mereka satu-satu. Hal ini tentunya akan lebih mudah jika saya beralih ke Afika.
Itu yang pertama. Kedua, apa yang saya perhatikan mengenai JKT 48 adalah aspek kuantitas personil. Berapakah jumlah ideal sebuah boy/girlband? berdasarkan atas apa yang saya amati, saya akan menandaskan, “Sebanyak apapun, selama panggung pentas belum sepenuhnya roboh.”
Yang ketiga, dari live perfoma. Percaya apa tidak, saya adalah pengagum rahasia dari hal-hal yang saya benci. Dalam artian, semakin saya benci, semakin saya berhasrat utk melakukan riset diam-diam thd hal tsb hanya utk sekedar berjijik-jijikan ria, meski itu harus menyita waktu produktivitas (kepepet) saya. Dengan anggota sebanyak itu, saya suka sekali menyaksikan JKT 48 tampil hanya karena saya ingin melihat salah satu personil terlempar dari panggung akibat bertubrukan keras satu sama lain. saya adalah org yang tidak mudah patah hati menunggu hari dimana insiden itu muncul. saya yakin, peluang itu ada.. Kebayang, gimana hebohnya ketika salah satu personil mimisan/bocor kepalanya akibat tendangan kungfu personil lain.
Dan lagi, dengan berbagai tari-tarian enerjik diatas panggung, salah satunya mengitari mic, membuat mic berpotensi tidak hanya bau pada kepala, tapi juga buritan mic. Ini sungguh merepotkan kru mereka sendiri. Kebayang kan berapa alokasi dana utk sekedar penyediaan tisu basah ketika jeda konser untuk, yaaa setidaknya ngelap cipratan kesekian mic yang disebar diatas panggung.
Saya ingat bener riwayat Walt Disney adalah seorang Musophobia, begitu juga Thomas Edison yang takut akan gelap. Mungkin, ketakutan thd sesuatu bisa membawa seseorang ke dalam kesuksesan. Dan ketika sudah sukses, tidak mesti juga harus merepotkan orang lain, kan?
Saya tidak menjudge, saya juga belum tentu bisa seperti mereka. Kalo dipaksa menandingi mereka, hal-hal yang bisa saya jual dan berguna utk orang lain adalah ginjal dan... sperma.
Maju terus musik Indonesia. Tapi please, jangan dgn cara ini..
